nulis dengan aksen mau nangis sebenernya bukan gue banget. wkwkwk. beberapa menit lalu gue beneran nangis. dan beberapa detik setelahnya gue udah ketawa-tawa. internet bilang kayak gitu gelaja bipolar. tapi gue gak bisa diagnosis sendiri dan harus butuh analisa dari psikolog. duit siapa juga buat konsil ke psikolog. orang juga gak akan mau kali ngasih duit buat periksa kejiwaan, paling-paling orang bilang gue cengeng gue terlalu sensitif gue baperan dan lain sebagainya gue belum dewasa dan bla bla lainnya. (orang maksud gue orang tua).

gue udah berusaha berdamai dengan diri sendiri, dengan orang tua, dan segala metodenya. tapi gak semudah itu buat ngehilangin perasaan takut dan perasaan gak berharga. 12 tahun gue sekolah, gue selalu jadi anak berlian keluarga. bisa lo bilang kalau gue anak yang membanggakan, yang kompetitf, dan gak mau kalah. entah gue berusaha atau karena beruntung, gue bisa ikut lomba-lomba, ngewakilin sekolah. that's why somehow they started putting a high expectation on me. 

setelah lulus dari smp, gue masuk ke sma prestisius. sma terpandang. and i'm not doing bad at high school, walaupun buat masuk jadi tiga teratas kelas tuh susah. dan di akhir sma, i got into itb lewat jalur snmptn. sebuah terjun bebas yang terbesit secara impulsif dan ternyata adalah hadiah. aku gak inget kenapa aku yakinin banget ke mereka buat izinin aku ke itb. ganesha. your so called mitnya indonesia. bukan ugm bukan undip, bukan ui. well ui jelas gak mungkin, karena gak ada jejak rekam alumni yang masuk teknik ui. tapi ugm waktu itu possible. 

tapi seperti yang kita ketahui, masuk itb gak langsung dapat jurusan. there's a phase called tpb. mereka udah bermimpi, ngebayangin gue jadi insinyur dengan proyek milyaran yang jadi pemborong besar, dan bisa jadi crazy rich kayanya hahaha. of course, itb gitu loh. ekspektasi orang tua mana yang gak tinggi kalau tau anaknya masuk itb (yang langka buat orang-orang di tempat domisili kami). 

tapi gue tidak bisa jadi pemborong miliaran itu lol. soalnya gue gak masuk ke prodi yang mereka pingin. di saat itu, there's no congratulatory message. yang ada cuma gue diwa "harapan kosong", he approached me just to ask for my doswal numbers.  gak ada satupun orang yang tahu gimana perasaan gue waktu itu. gue marah. karena gue jelas-jelas sakit hati. gue didiemin. satu-dua bulan di rumah rasanya bener-bener kayak mau mati. rasanya dibenci. gak berguna. gak layak. di saat itu gue gak boleh nangis. ketika gue nangis sampai sakit pun, no one is approaching me. they didn't say a sorry for breaking my heart. gue diminta pindah kuliah. tapi gak ada kedinasan yang buka, dan utbk udah lewat. tau apa yang lebih sakit? dibandingin sama kakak sendiri :) kakak yang paling gue hormati, gue sayang. gue gak peduli dibandingin sama tetangga atau temen-temen gue. tapi rasanya sesek banget dibandingin sama kakak sendiri :)

let's call it a fate. walaupun keduanya berusaha untuk menerima jurusan gue yang menurut mereka sangat gak profitable dan punya masa depan suram, tapi sampai gue semester 6 pun, gue masih terus buat didorong masuk [redacted], nanti kamu s2nya di [redacted]. sebelumnya gue gak benci [redacted], but they made me hate it. gue gak mau dan gak tertarik buat masuk ke sana. they don't love me as i am :)

the situation got worse FOR ME. kakak gue keterima beasiswa s2. setelah semester tiga nilai keluar, i remember she asked me, kamu bisa gak s2 kayak kakak kamu. ip gue wkatu itu gak sebagus itu. cuma tiga. tapi gak bis abuletin ipk gue sampai ke 3. 

semester selanjutnya gue burn out berkepanjangan sampai satu matkul gak lulus. mesti ngulang. it's like an ending to any of my dream. tapi gue berusaha melalui semester 5 sekuat gue, walaupun gila, disambi vertigo. 2020- 2021. the worst year of my life.

dua kali ke psikolog and it doesn't help anything. 

semua mereda setelah 2022, kembali normal. setidaknya gue negrasa lebih tenang jauh dari mereka. karena sekarang kuliah offline. tapi rasa sakitnya gak ilang. sampai di mana setiap kali gue belajar yang keingetan cuma memori buruk di rumah. gue akhirnya ke psikolog lagi. gue cerita dan psikolognya bilang kalau gue harus ngomong itu ke ortyu gue. lewat tulisan. 

dan lebaran kemarin, gue bikin. gue bikin surat yang gue tulis waktu malam takbiran. tapi percuma :) it doesn't help anything. 

ngembaliin perasaan layak buat hidup itu susah. 

kalau gampang, gak mungkin gue nangis gemeter waktu lihat berita anak bupati bunuh diri. atau sekarang, gue lagi-lagi menulis cerita ini. rasa sakitnya kayak gak akan pernah habis. 

mungkin gue bukan anak yang bersyukur. dan gue bukan lagi anak brilian yang berhak buat hidup. 

someday i will die. someday. 

Komentar

Postingan Populer